Mercury Jacket
Jaket Mercury punya komponen elektrik yang ringan dan tipis

Jaket pada dasarnya dirancang untuk menghangatkan tubuh selagi suhu udara di sekitar terlampau dingin. Sementara mayoritas jaket menambah lapisan kain agar memaksimalkan penyerapan suhu, perusahaan asal Boston, Ministry of Supply membenamkan penghangat elektrik ke dalam jaket terbarunya yang bernama Mercury.

Mercury terbuat dari polyurethane dan polyester dengan lapisan yang tahan air, tahan angin, dan mencegah bau. Perancangnya mengatakan Mercury bisa dipakai seperti jaket biasa karena perangkat pemanas di dalamnya hanya seberat 100 gram, alias nyaris tidak dirasakan kehadirannya.

Sistem pemanas Mercury ditopang oleh baterai 10.000 mAh yang mampu memberikan pemanasan maksimal selama 5 jam. Tersedia Bluetooth 4.0 Low Energy agar pengguna bisa mengontrol suhu melalui smartphone.

Mercury Heater
Suhu dapat berubah-ubah tergantung aktivitas

Namun, daya tarik Mercury datang dari kemampuan Machine Learning. Menurut perusahaan, fitur tersebut bertugas membaca kebutuhan penghangat pengguna. Suhu yang diaplikasikan bervariasi tergantung dari kondisi cuaca, waktu, aktivitas, dan profil pemakainya secara otomatis.

Pihak perancang mengklaim Mercury akan semakin cerdas seiring pemakaian. Pengguna juga dapat mengontrol jaket melalui perintah suara via Amazon Alexa. Fitur lain yang tersemat pada jaket ini ialah charger wireless. Cukup masukkan smartphone di kantong depan, maka proses pengisian daya akan dimulai.

Produk jaket penghangat elektrik sebelumnya telah beberapa kali beredar di pasaran. Sebut saja Ravean yang punya fitur identik seperti Mercury.

Saat ini jaket penghangat elektrik Mercury menjadi subjek penggalangan dana di Kickstarter. Mereka menargetkan pendanaan awal $72.000 namun saat artikel ini ditulis sudah diperoleh hampir $400.000 dan proses crowdfunding masih tersisa 2 minggu lagi.

Harga jaket versi early-bird ditawar Rp 2,7 juta namun akan melonjak signifikan saat dirilis November 2018 menjadi Rp 7 juta.