Panel Surya Satelit
Ide untuk membangun panel surya di luar angkasa sudah ada cukup lama, sayangnya teknologi untuk itu belum memungkinkan (credit: PIRO4D/Pixabay)

Kebutuhan manusia akan energi listrik semakin meningkat. Bergantung pada sumber daya fosil tentu tidak bisa dilakukan terus-menerus dan harus segera diganti dengan sumber yang lebih bersih, seperti panel surya. Teknologi ini kian populer dalam beberapa tahun terakhir berkat harganya yang menurun drastis sehingga sejumlah pihak memanfaatkan peluang ini untuk memasang panel surya pada bangunan mereka.

Panel surya yang lebar dapat menyerap energi lebih besar, namun ukuran lahan seringkali menjadi masalah terkait sumber energi bersih ini. Ide untuk meletakkan panel surya di ruang angkasa pun muncul. Sayangnya, hal itu turut menimbulkan pertanyaan krusial: bagaimana cara mengirim energi ke Bumi?

Dilaporkan oleh Bloomberg, penemu asal Iran, Ali Hajimiri tengah mengerjakan proyek paling ambisius miliknya yang berfungsi untuk mengirim energi dari jarak jauh, hingga ke luar angkasa.

Alih-alih menyimpan energi ke baterai lalu mengirimnya ke stasiun di Bumi, energi bisa dikirim langsung secara wireless pada satu titik penerima. Konsep ini mungkin terdengar seperti yang dibuat oleh Nikola Tesla lebih dari seabad yang lalu. Transfer energi nirkabel sudah mulai digunakan pada aplikasi sehari-hari seperti charger ponsel.

“Kami pada dasarnya membuat pancaran sinyal dan memfokuskan energi pada lokasi tertentu,” jelas Hajimiri.

Profesor yang terinspirasi dari sistem komunikasi semut itu mengatakan metode ini tidak menghasilkan efek rumah kaca yang membahayakan lingkungan.

Elon Musk sebut ide ini kurang realistis

Sebagai salah satu pengusaha energi, Elon Musk mengaku juga pernah mendengar konsep ini, yakni menaruh panel surya di angkasa dan mengirim energinya langsung ke Bumi. Ia mengatakan efisiensi energi akan turun dari waktu ke waktu, serta biaya peluncuran panel ke ruang angkasa tidaklah ekonomis.

“Pembangkit listrik tenaga surya di angkasa? Itu hal terbodoh yang pernah ada. Jika ada orang yang berpikir siapa (yang akan membangunnya), itu seharusnya saya. Saya punya perusahaan roket dan perusahaan panel surya,” kata Musk saat interview dengan Popular Mechanics pada 2012.

Hajimiri sadar bahwa apa yang ia kerjakan masih seperti science fiction meski ia telah memiliki prototipe skala lab.

“Saya pikir sains fiktif adalah cara utama untuk berpikir membuat sesuatu yang berguna dan menarik. Kamu memulainya dari sesuatu yang belum pernah ada dan dianggap sains fiktif, dan kamu mencari tahu apa yang bisa kamu lakukan untuk itu,” katanya.

Sampai Hajimiri dan ilmuwan lainnya menemukan cara paling efisien untuk mengirim energi dari luar angkasa ke Bumi, panel surya tetap akan ditempatkan di planet yang kita tinggali saat ini.