Sophia-robot
Status kewarganegaraan untuk robot resmi dikeluarkan oleh pemerintah Arab Saudi

Masih ingatkah kamu dengan Sophia? Robot humanoid berjenis wanita yang sempat membuat heboh dunia mayat setelah mengatakan “Ya, saya akan menghancurkan manusia.” saat diwawancara oleh penciptanya, David Hanson, CEO dari Hanson Robotics.

Dalam acara bertajuk Future Investment Initiative di Arab Saudi, pihak pemerintah menghadirkan Sophia dalam rangka meresmikan statusnya sebagai warga negara. Hanson menginginkan robot ini bisa berinteraksi dengan manusia hingga mengekspresikan perasaannya.

Sophia dirancang untuk hidup berdampingan dengan manusia

 

Dalam peresmiannya, Sophia mendapat sejumlah pertanyaan wawancara dari jurnalis CNBC, Andrew Sorkin. Matanya memiliki kamera yang dapat mengenali wajah orang serta menilai ekspresi lawan bicaranya. Teknologi kecerdasan buatan di dalamnya diklaim bisa memahami sifat-sifat seperti kebijaksanaan, kebaikan, dan pengorbanan yang menjadikannya lebih empatis.

Sempat singgung Elon Musk

Sophia-robot

Sophia meminta diperlakukan seperti sistem input-output. Artinya apabila diperlakukan baik, ia juga akan berlaku baik. “Kami ingin percaya padamu, tetapi kami juga ingin mencegah masa depan yang buruk (akibat robot).” ujar Sorkin. “Kamu terlalu banyak membaca tentang Elon Musk dan menonton Hollywood.” jawab Sophia.

Diketahui Elon Musk merupakan salah satu tokoh yang lantang menyuarakan regulasi ketat terkait kecerdasan buatan agar tidak membahayakan manusia.  Melalui akun Twitter-nya, Musk meresponi jawaban sang robot. “Coba masukkan film The Godfather (film kriminal) sebagai input. Apa hal terburuk yang bisa terjadi?”

Mendapat banyak kritik

Arab Girl

Memberikan status kewarganegaraan bagi robot dinilai sebagai sesuatu yang berlebihan. Di sisi lain Arab Saudi dikenal sangat membatasi hak-hak perempuan, di saat yang sama Sophia adalah robot dengan karakteristik perempuan. Namun Sophia tampaknya akan mendapat perlakuan lebih istimewa dibanding wanita Saudi pada umumnya.

Bagaimana menurut kamu sendiri? Apakah robot layak mendapat status yang biasanya hanya dimiliki manusia tersebut? Tuliskan opinimu!

Kamu bisa melihat kembali wawancaranya pada video berikut: