Tesla Autopilot System
Sukses di awal, sistem autopilot Tesla kini mendapat skor terendah

Tesla mungkin menjadi pionir sistem self-driving atau autopilot dimana seluruh mobil produksinya dibekali kemampuan tersebut. Tetapi dalam perkembangannya, Tesla tampak jauh tertinggal di bawah manufaktur otomotif lain.

Laporan yang dirilis Navigant Research menuliskan peringkat sejumlah perusahaan yang saat ini mengembangkan sistem kemudi autopilot. GM Motor, Waymo, Volkswagen, Ford, dan BMW ditempatkan dalam posisi Leaders yang berarti sangat kompetitif di masa mendatang.

Sementara Tesla berada di area Challengers bersama Honda dan Uber. Hasil riset ini tentu sangat mengejutkan publik. Namun tentu ada alasan kritis mengapa perusahaan mobil elektrik itu tidak mampu mendongkrak pengembangan kemudi otomatisnya.

Fakta miris bahwa Tesla lebih buruk dari Apple

Project Titan
Apple dikabarkan membuat mobil self-driving (credit: Cult of Mac)

Apple lebih dikenal sebagai produsen gadget populer, seperti iPhone, iPad, dan MacBook namun perusahaan yang dipimpin oleh Tim Cook tersebut juga punya ambisi mengembangkan sistem autopilot pada mobil elektrik berjuluk Project Titan. Proyek ini dikabarkan sudah dimulai pada 2015 dengan target perilisan mobil di 2020.

Meski masih cukup baru, Apple sudah selangkah lebih maju dari Tesla dan ini harus menjadi dorongan kuat bagi Elon Musk dan timnya untuk mengejar ketertinggalan.

Tesla terpaksa membuang sensor LIDAR agar mobil tetap punya penampilan bagus

Waymo Car
LIDAR pada Google Waymo (credit: Waymo)

Umumnya dibutuhkan empat sensor agar mobil dapat mengenali lingkungan, yaitu LIDAR, Radar, Ultrasonic, dan kamera. LIDAR merupakan sensor berbasis sinar laser yang biasanya dipasang di atap mobil self-driving. Namun Tesla sengaja menyingkirkannya dan hanya mengandalkan tiga sensor agar tetap membuat mobil good-looking.

Pengembangan autopilot Tesla merangkak akibat kerjasama dengan MobilEye yang terputus

Mobileye
Mobileye memiliki peran penting bagi Tesla (credit: MobilEye)

Tiga sensor yang digunakan Tesla sudah mampu untuk mengoperasikan sistem autopilot. Meski demikian, sensor kamera memegang peran yang sangat strategis dalam sistem ini. Penyedia kamera, yakni MobilEye dilaporkan putus hubungan dengan Tesla pada 2016 lalu dan memaksa perusahaan mencari penyedia baru dan mengembangkannya kembali.

Sayangnya, MobilEye memiliki teknologi di atas rata-rata jika dibandingkan Tesla Vision yang diusung perusahaan sebagai penggantinya. Apabila Tesla ingin kembali dengan partnernya, mereka harus terlebih dahulu melobi Intel karena Intel telah mengakuisisi MobilEye pada awal 2017 lalu.

Google dan Tesla mungkin akan bekerjsama

Tesla Factory
Google butuh manufaktur, Tesla butuh sistem (credit: Gas2)

Google Waymo sudah menjalani pengujian sejauh 12 juta kilometer tanpa pengemudi. Dari waktu ke waktu, superkomputer di dalamnya semakin cerdas. Tetapi Waymo sendiri belum terjun dalam industri otomotif mengingat mereka hanya sebatas membuat sistem. Untuk itulah, Tesla sebagai manufaktur mobil mungkin mengambil langkah krusial dengan menggandeng Google.

Akan tetapi, negosiasi bisnis ini tampaknya tidak akan berjalan mulus. Waymo diketahui memasang sensor LIDAR di atapnya yang terlihat jelas dari luar. Sementara Tesla ingin agar mobil tetap berpenampilan menarik dan premium. Jika begitu, Waymo harus merekonstruksi ulang sistemnya atau kedua belah pihak menemukan cara baru untuk meletakkan LIDAR di posisi yang ideal dan tidak merusak visualisasi mobil.

Saat ini Tesla sedang berjuang mengembalikan kejayaannya di masa lalu, setidaknya sebelum manufaktur lain memproduksi mobil self-driving secara massal.