Kistler K-1
Namanya asing, tetapi sudah jauh lebih dulu mengusung konsep roket reusable (credit: Kistler)

Saat ditanya soal roket reusable alias daur ulang, mayoritas responden akan menyebut nama perusahaan SpaceX. Harus diakui, perusahaan antariksa swasta yang didirikan Elon Musk ini berhasil merevolusi cara baru ke luar angkasa dengan biaya minimal. Meski SpaceX cukup berhasil saat ini, tetapi konsep roket daur ulang sudah lebih dulu ditawarkan perusahaan antariksa lain.

Adalah Kistler Aerospace Corporation yang muncul pertama kali pada 1993 dengan misi untuk mengirim satelit ke orbit Bumi hingga bongkar-muat stasiun luar angkasa. Pendirian perusahaan ini tidak main-main, hingga melibatkan nama besar seperti George Mueller yang sering dikaitkan sebagai pemrakarsa Space Shuttle.

Jika dibandingkan dengan SpaceX, Kistler jelas lebih berumur serta memiliki sumber daya manusia yang mumpuni. Sayangnya, nama perusahaan ini tidak terdengar di pemberitaan saat ini. Berikut fakta-fakta tentang Kistler yang berhasil Sefsed.com rangkum.

Roket Kistler K-1 seluruhnya reusable

Kistler K-1
Kistler K-1 mengeluarkan muatan (credit: Kistler)

Roket andalan SpaceX, yakni Falcon 9 saat ini sudah belasan kali mendaratkan stage 1 ke Bumi setelah mengirim stage 2 beserta muatan ke ketinggian maksimal. Secara kasar, SpaceX hanya menyelamatkan sekitar 70 persen bagian roket sebab stage 2 tetap dibiarkan begitu saja di angkasa atau terbakar habis saat memasuki atmosfer.

Di pihak lain, roket Kistler K-1 memastikan seluruh bagiannya bisa dipakai pada peluncuran berikutnya. Roket setinggi 37 meter ini terbagi menjadi 2 tahapan layaknya Falcon 9. Saat mendarat kembali ke Bumi, tubuhnya dibekali parasut dan air bag untuk meredam tekanan saat menyentuh tanah. Jika kamu amati, stage 2 memiliki ujung yang tumpul karena bagian itu berperan sebagai pelindung panas saat menerobos atmosfer Bumi.

Mesin roket Kistler juga lebih kuat dari Merlin Engine milik SpaceX

NK-33 Engine
NK-33 saat diujikan (credit: Kistler.co)

Bicara soal thrust-to-weight ratio, Merlin Engine yang kini dipakai pada Falcon 9 dan Falcon Heavy memang tiada tandingannya. Akan tetapi, dalam hal daya dorong, Kistler mengusung mesin NK-33 yang sebelumnya dikembangkan oleh Rusia untuk misi ke Bulan. Namun karena perlombaan menuju satelit Bumi itu akhirnya dimenangkan oleh Amerika Serikat, mesin pendorong itu ditinggalkan begitu saja hingga akhirnya dijual usai perang dingin berakhir.

Kistler menjadi salah pembelinya, mereka juga memperbaiki kapasitas mesin dengan pembaharuan rangkaian elektronik. NK-33 memiliki daya dorong 1,680 kN, sementara Merlin hanya 914 kN dalam kondisi vakum. Tidak heran bila Kistler hanya butuh 4 mesin saja keseluruhan.

Kistler dinyatakan bangkrut

Kistler Rocket
Belasan tahun beroperasi tanpa pemasukan (credit: Kistler)

Pada 2005, karena terus-menerus ‘membakar’ uang tanpa ada pemasukan sama sekali, Kistler harus gulung tikar. Kemudian di tahun 2006 ada secercah harapan ketika NASA memasukkan nama Kistler dalam kontrak misi pengiriman suplai ke ISS. Saat itu, SpaceX juga tertera di dalam perjanjian tersebut.

Lagi, akibat dukungan dana dari NASA yang tidak memadai, roket Kistler K-1 tidak pernah meluncur meski telah dikembangkan selama belasan tahun. Setahun setelahnya, NASA mematikan kontrak dengan Kistler dan menyisakan SpaceX sebagai satu-satunya pilihan.

Kistler hanya kekurangan dana, sementara SpaceX punya Elon Musk

Elon Musk Sunglasses
Elon Musk punya andil besar kesuksesan SpaceX (credit: Business Insider)

Di atas kertas, konsep roket Kistler K-1 sangat rasional untuk dilibatkan dalam misi. Tetapi, perusahaan perlu waktu yang cukup lama untuk mengembangkan ide tersebut menjadi kenyataan. Hingga akhirnya perusahaan dinyatakan pailit ketika roketnya hampir siap.

Beruntungnya, SpaceX memiliki sosok Elon Musk yang mampu memanajemen sumber daya seoptimal mungkin demi menekan pengeluaran. Di sisi lain, Musk adalah seorang pengusaha yang cukup mapan dalam keuangan. SpaceX gagal dalam 3 peluncuran perdana Falcon 1, namun masih punya sisa uang untuk peluncuran ke 4 yang akhirnya menyelamatkan perusahaan hingga sekarang.

Ide SpaceX lebih diminati, bahkan dicontek perusahaan lain

Mendaratkan roket dengan parasut menawarkan solusi yang lebih murah, tetapi terlalu rentan tertiup angin dan jatuh di posisi yang tidak diinginkan. Sedangkan SpaceX jauh lebih kompleks, membuat roket yang mendarat kembali secara vertikal. Walaupun sulit, setidaknya cara ini sudah terbukti berhasil. Efeknya, perusahaan antariksa lain pun tertarik dengan metode tersebut.

Sebut saja desain New Glenn dari Blue Origin yang berencana mendaratkan roket di atas landasan mengapung di lautan. Atau perusahaan antariksa asal China, Link Space yang secara total menyalin Falcon 9. Elon Musk sudah menduga hal ini, ia mengatakan bahwa perusahaannya tidak punya kuasa atas hak paten. Menyalin hasil kreasi mereka bukan tindakan yang melanggar hukum.

Sementara Kistler sudah hampir dilupakan, setidaknya nama perusahaan ini pernah bersanding bersama SpaceX saat berusaha mengembangkan roket daur ulang.