Terminator Rusia - Kalashnikov Group
Manufaktur senjata asal Rusia belum lama ini mengumumkan pengembangan modul perang yang bisa mengambil keputusan sendiri

Bayangkan suatu saat peperangan manusia tidak lagi berada di medan pertempuran, melainkan hanya perlu memantau pergerakan pasukannya melalui layar monitor. Alih-alih mencegah kematian lebih banyak prajurit serta meningkatkan efektivitas, Rusia kembangkan robot tempur otomatis.

Manufaktur senjata Kalashnikov Group memamerkan modul tempur yang tengah dikembangkannya sehari setelah Vladimir Putin mengunjunginya. Robot dibekali kecerdasan buatan (AI) yang mampu beroperasi mandiri, mulai dari mengidentifikasi target, membidikinya, lalu membuat keputusannya sendiri.

Terminator Rusia - Kalashnikov Group
Salah satu mesin perang otonomi lengkap dengan senjatanya

Sebagian dari modul tempur yang dipamerkan masih bisa dikontrol manusia dari jarak jauh. Ini berarti potensi jumlah korban perang dapat direduksi. Meski demikian penggunaan AI secara penuh untuk senjata masih meninggalkan debat.

Pada 2015, ribuan ilmuwan termasuk Stephen Hawking dan Elon Musk menandatangani petisi yang ditujukan kepada PBB untuk mencegah penggunaan AI pada peralatan perang. Sayangnya baru direspon pada akhir 2016 dan akan dibuat tim khusus untuk mendalami usulan ini. Di saat yang sama Rusia sudah hampir siap dengan teknologinya.

Terminator Rusia - Kalashnikov Group
Pihak manufaktur menyebut teknologi yang mereka kembangkan mendekati tahap realisasi

“Modul tempur dengan teknologi otomatis ini berencana melakukan demonstrasi di forum Army-2017” kata Sofiya Ivanova, Direktur Komunikasi Kalashnikov Group. Ivanova juga mengatakan pihaknya dalam waktu dekat akan menjelaskan sistem syaraf tiruan yang dipakai modul tempurnya.

Penggunaan otonomi penuh pada senjata perang masih menjadi kontroversi. Pasalnya mesin tidak memiliki moral untuk menentukan takdir seseorang. Apalagi sistem sangat mungkin untuk diretas.

Terminator Rusia - Kalashnikov Group
Manusia memiliki moral, sementara mesin unggul dalam akurasi. Hal ini masih menjadi perdebatan

Sementara itu beberapa ilmuwan yang mendukung mengklaim AI jauh lebih bisa diandalkan untuk akurasi tembakan dan memperkecil kemungkinan jatuhnya korban warga sipil. Beberapa kali terjadi kasus salah tembak terjadi akibat kesalahan manusia di medan perang.

Berbeda dengan rivalnya, Amerika Serikat dalam “The Terminator Conundrum” yang diutarakan Pentagon mengatakan pihaknya sudah memiliki teknologi yang bisa diandalkan untuk membuat mesin pembunuh independen, tetapi mereka sengaja tidak membuatnya.