Baru-baru ini Boeing membuat website membuat website berjudul Watch US Fly yang memamerkan bahwa roket Space Launch System (SLS) yang mereka buat bersama NASA akan menjadi tunggangan warga Amerika ke Mars. Uniknya, dalam situs tersebut mereka juga ‘mencubit’ roket SpaceX Falcon Heavy.

Peluncuran Falcon Heavy dilakukan pada 6 Februari lalu yang otomatis menjadikannya sebagai roket terkuat di dunia, setidaknya yang beroperasi saat ini.

“Namun, Falcon Heavy gagal mengesankan departemen penerbangan ruang angkasa di NASA. Bill Gerstenmaier, selaku kepala divisi tersebut mengatakan Falcon Heavy ‘terlalu’ kecil untuk kebutuhan NASA. Aduh.” tulis Boeing dalam situsnya.

Secara spesifik, kekuatan dorongan Falcon Heavy mencapai 64 metrik ton, sementara roket SLS hasil kolaborasi Boeing dengan NASA mencapai 70 metrik ton di fase awal, lalu 105 metrik ton setelah upgrade.

Belum berhenti sampai disitu, proses upgrade akan terus berlangsung hingga mencapai 130 metrik ton yang artinya menjadi roket terkuat sepanjang sejarah. Angka ini membanting roket Saturn V di era Apollo dengan daya dorong 118 metrik ton.

Big Falcon Rocket vs Space Launch System

SLS diklaim memiliki kemampuan unik yang tidak ada pada roket manapun, termasuk Falcon Heavy. Perusahaan juga mengklaim bahwa manusia pertama yang mendarat di Mars akan gunakan roket Boeing. CEO dan Founder SpaceX pun meresponinya dengan kalimat singkat, “lakukan”.

Angka 130 metrik ton mungkin terdengar besar dan tidak terkalahkan, namun SpaceX juga punya proyek Big Falcon Rocket (BFR) yang diperkirakan bakal rampung pada 2022, lalu membawa manusia pertama ke Mars dua tahun setelahnya. SpaceX juga punya ambisi menghidupkan koloni manusia di Planet Merah tersebut, bukan sekedar mendarat dan pulang kembali.

Terlepas siapa yang akan lebih dulu menginjakkan kaki di Mars, persaingan antara ‘senior’ Boeing dengan ‘si anak baru’ SpaceX tentu akan sangat menarik.