VULCAN ULA
Ilustrasi roket Vulcan (credit: ULA)

Jika ada pihak yang harus tertekan akibat kehadiran SpaceX, itu sudah pasti adalah United Launch Alliance (ULA). Perusahaan yang dibentuk oleh Boeing dan Lockheed Martin pada 2006 ini bekerja mengirim satelit milik pemerintah, termasuk NASA. Namun sejak kemunculan Falcon 9, sang raksasa yang telah lama memonopoli peluncuran ini harus berbagi potongan kue dengan perusahaan milik Elon Musk tersebut.

SpaceX sukses meluncurkan roket terkuatnya, Falcon Heavy pada 6 Februari kemarin dan menyita perhatian publik, tidak terkecuali para petinggi ULA.

Roket setinggi 70 meter itu didesain untuk bisa mendarat kembali dan dibersihkan sebelum akhirnya digunakan lagi pada misi berikutnya. Metode ini memungkinkan SpaceX hanya mematok biaya $90 juta untuk mengirim beban 64 ton ke orbit rendah Bumi.

Sementara itu, roket Delta IV milik ULA dibanderol $350 juta untuk sekali peluncuran dengan kapasitas yang hanya setengah dari Falcon Heavy, yakni 32 ton. Sang CEO, Tory Bruno bahkan mengakui bahwa roket perusahaannya lebih mahal karena tidak reusable.

Seperti dilaporkan oleh Business Insider, ULA berencana pensiunkan Delta IV setelah 7 misi berikutnya. Mereka saat ini juga sedang mengembangkan roket reusable bernama Vulcan untuk berkompetisi dengan SpaceX dan Blue Origin.

Perusahaan sudah mulai kembangkan Vulcan sejak 2014 dan akan melakukan penerbangan pertama di pertengahan 2020

Sejak Bruno memimpin perusahaan 2014 silam, ULA mulai serius kembangkan roket daur ulang. Pasalnya, SpaceX telah mengumumkan konsep serupa pada 2011. Di tahun yang sama ketika Bruno aktif sebagai CEO, Falcon 9 sudah rutin melakukan misi pengiriman.

Vulcan bakal lebih kuat dari Delta IV, namun tetap saja tidak bisa mengalahkan Falcon Heavy

Falcon Heavy Lift Off
27 mesin pendorong menghasilkan daya angkat jutaan kilogram (credit: SpaceX)

Vulcan boleh diagungkan sebagai roket paling handal milik ULA. Tetapi jika dibandingkan Falcon Heavy, tampak tidak berbobot. Roket tersebut rencananya mampu membawa beban hingga 40 ton atau terpaut 30 ton dari roket terkuat SpaceX. Namun, Bruno mengatakan Vulcan bersifat modular, sehingga bisa ditambah solid booster untuk meningkatkan daya dorongnya.

Tidak semua bagian roket kembali ke Bumi, melainkan hanya mesinnya saja

Jika SpaceX berusaha mengembalikan seluruh tubuh roket, ULA cenderung untuk memungut lagi mesin pendorongnya saja yang merupakan bagian termahal. Dalam videonya, ULA sempat menyinggung bahwa sistem milik SpaceX kurang efektif.

Mesin roket menggunakan pelindung panas yang dikembangkan NASA dan parasut untuk memperlambat jatuhnya

Vulcan Reentry
Pelindung panas mengembang saat akan memasuki atmosfer (credit: ULA)

Saat memasuki atmosfer Bumi, mesin pendorong akan membentangkan pelindung panas agar tidak hancur akibat gesekan ekstrim. Kemudian parasut akan terbuka dan helikopter segera menangkapnya saat sedang di udara. Sistem ini pernah dipakai dalam dunia militer pada 1960an.

Roket Vulcan diklaim akan mematok biaya yang kompetitif dengan Falcon Heavy, yakni kurang dari $100 juta

Vulcan
Vulcan hanya menyelamatkan bagian termahal (credit: ULA)

Vulcan menawarkan biaya lebih murah dari Delta IV namun dengan bobot yang lebih berat. Falcon Heavy dan Vulcan memasang tarif yang berbeda tipis. Apabila SpaceX sedang pada peluncuran, ULA dapat memanfaatkan peluang ini sebagai alternatif.

Vulcan membidik pengiriman satelit besar, namun mereka juga harus berkompetisi dengan Blue Origin

Vulcan harus diakui tidak sekuat Falcon Heavy, tetapi dimensi ukuran satelit yang diizinkan lebih besar. Bruno pun mengatakan pemesan selalu meminta meluncurkan satelit yang semakin besar, dengan demikian mengembalikan seluruh tubuh roket menjadi semakin sulit. Tetapi ULA masih harus menghadapi New Glenn milik Blue Origin yang memangsa target serupa.

Ketika Vulcan aktif, SpaceX sudah siap dengan roket yang lebih efisien 

Big Falcon Rocket
BFR akan menjadi roket serbaguna SpaceX untuk banyak keperluan (credit: SpaceX)

Bruno memperkirakan seluruh sistem Vulcan aktif antara 2023-2024. Di tahun yang sama, SpaceX berencana menerbangkan Big Falcon Rocket yang mana seluruh bagiannya reusable. Elon Musk bahkan tidak bimbang biaya peluncuran akan jauh lebih murah dibanding Falcon 1.