SpinLaunch Rocket
SpinLaunch membidik pengiriman satelit kecil

Di masa kanak-kanak kita pasti pernah melihat atau memainkan ketapel yang biasa diisi batu atau biji-bijian. Semakin besar tarikannya, semakin jauh batu itu terlempar. Rupanya ide ini juga menginspirasi sebuah perusahaan antariksa bernama SpinLaunch untuk mencoba muatan yang lebih besar, yakni satelit.

Secara teori, metode tersebut memang bisa dilakukan apabila momentum yang diperlukan mencukupi. NASA diketahui telah mengembangkan ide serupa, namun akhirnya menemukan bahwa hal itu tidak efektif untuk dilakukan.

Alih-alih berbentuk seperti ketapel yang selama ini kita kenal, SpinLaunch memanfaatkan rotasi agar tercipta gaya sentrifugal. Kemudian saat momentumnya tercapai, muatan akan dilepas dan meluncur pada ketinggian maksimal dan hanya perlu sedikit dorongan roket untuk mengarahkan pada orbit yang diinginkan.

Melaju dengan kecepatan hypersonic

SpinLaunch
Purwarupa roket SpinLaunch

Dikutip oleh Sefsed.com melalui TechCrunch, CEO SpinLaunch, Jonathan Yaney menjelaskan cara kerja sistemnya.

“SpinLaunch menggunakan metode rotasi akselerasi, memanfaatkan momentum sudut yang secara bertahap mempercepat kendaraan hingga kecepatan hypersonic.” kata Yaney.

Ia menambahkan bahwa metode tersebut dapat mereduksi biaya secara dramatis dan mengurangi jumlah energi yang diperlukan. Saat kendaraan peluncur dilepas dari ketapel, kecepatannya akan mencapai 4.800 km/detik. Memang tidak cukup untuk mencapai angkasa tetapi sangat membantu untuk akselerasi awal.

Biaya peluncuran lebih murah dari SpaceX

Falcon 9
Roket Falcon 9 milik SpaceX yang terkenal paling murah untuk kapasitas peluncurannya

SpaceX saat ini melayani peluncuran satelit besar dengan harga $60 juta menggunakan roket Falcon 9. Sementara itu SpinLaunch fokus pada pengiriman satelit kecil dengan biaya $500.000 per sekali peluncuran.

Angka tersebut bahkan 10 kali lebih rendah dibanding roket Electron yang sama-sama dalam bisnis satelit kecil. SpinLaunch juga telah mendapat pendanaan $30 juta untuk mengembangkan idenya menjadi kenyataan.

Salah satu tantangan terbesar SpinLaunch adalah gaya gesek udara yang memperlambat laju roket sebelum sampai ke ketinggian optimal. Untuk itu mereka membuat desain yang sangat aerodinamis dan ringan.

Belum ada timeline pengembangan SpinLaunch, akan tetapi berhasil tidaknya sistem peluncur ala SpinLaunch akan kita ketahui di masa depan.