Cassini
Misi "bunuh diri" wahana Cassini telah dilaksanakan (ilustrasi: NASA)

Setelah 20 tahun mengembara di angkasa, wahana antariksa Cassini akhirnya mengakhiri masa tugasnya dengan dijatuhkan ke atmosfer Saturnus dan hancur disana. NASA memastikan sinyal “Selamat Tinggal” dari Cassini sudah diterima oleh Deep Space Network di Canbera, Australia.

Wahana seharga lebih dari Rp 40 triliun tersebut telah mulai melakukan misi terakhir bertajuk Grand Finale sejak April lalu. NASA sengaja membuat rencana ini supaya saat Cassini kehabisan energinya, tidak menabrak satelit alami Saturnus seperti Enceladus dan Titan yang berpotensi menunjang kehidupan. Sebab bukan tidak mungkin Cassini secara tidak sengaja membawa unsur kehidupan dari Bumi.

Cassini
Lintasan orbit sengaja dibuat agar menabrak Saturnus

Pada Grand Finale, Cassini mengorbit pada lintasan elips sebanyak 22 kali. Saat itu wahana akan berada di titik terdekatnya dengan Saturnus, memberikan kesempatan bagi astronom untuk memotret lebih detil kondisi planet beserta cincinnya.

Pada orbit terakhir, Cassini memanfaatkan sisa propellant untuk memperlambat kecepatannya sehingga memasuki lapisan atmosfer teratas. Pada saat itu sampel molekul diambil dan kemudian datanya dikirim ke Bumi untuk diteliti. Tetapi momen tersebut tidak berlangsung lama sebab atmosfer semakin padat dan wahana hancur bak meteor.

Cassini
Foto oleh Cassini, Saturnus menghalangi sinar Matahari

“Bumi menerima sinyal terakhir Cassini pada 07:55 waktu setempat. Sekarang Cassini menjadi bagian dari planet yang diamatinya. Terimakasih (Cassini) atas sainsnya.” tulis NASA.

Dengan demikian berakhir pula pengamatan terhadap Saturnus melalui wahana tersebut. Meski demikian para astronom masih perlu mengolah data yang dikirim Cassini untuk menjadi subjek penelitian.