Google Europa Union
Google dituduh lakukan praktek monopoli

Dalam beberapa minggu terakhir tersiar kabar bahwa Google dijatuhi denda oleh Uni Eropa atas perilaku bisnis yang bersifat monopoli, dimana hal itu sangat ditentang di banyak negara. Secara spesifik, sistem operasi Android yang kini menangani 85 persen total pengguna perangkat mobile dituduh menghalangi persaingan bisnis dan punya strategi ‘kotor’.

Sebagai pengguna, mungkin kamu tidak menyadari adanya keganjilan dalam Android. Tetapi apabila diamati lebih dalam, Google telah membenamkan banyak aplikasinya sebagai bundle sehingga saat menggunakan satu layanan, besar kemungkinan akan tertaut ke layanan lain.

Lantas, kebijakan apa yang membuat Google harus membayar denda sedemikian besar kepada Uni Eropa?

Wajibkan instal layanan Google jika ingin punya Play Store

Hampir semua negara memiliki aturan antitrust yang pada dasarnya mencegah perusahaan melakukan monopoli. Google sebagai perancang Android tidaklah memberikan sistemnya secara cuma-cuma kepada manufaktur, mereka tetap harus ‘membayar’ dengan jalan lain.

Bagian paling esensial dari ponsel Android ialah keberadaan Play Store, tanpanya pengguna akan kesulitan mengunduh aplikasi lain. Sebagai aturan, Google mewajibkan manufaktur untuk secara default menginstal layanan seperti Google Chrome, Google Search, Google Photos, Gmail, dan lainnya agar bisa menempatkan Play Store.

Maka dari itu tidak heran jika kamu menemukan dua aplikasi kembar dalam satu ponsel, dimana satu merupakan milik Google, satu yang lainnya merupakan bawaan dari manufaktur.

Google batasi pengembangan versi Android lain

Meski Android berstatus sebagai open-source yang mana bisa dibongkar secara signifikan oleh manufaktur, faktanya itu tidak semudah kedengarannya.

Jika hal itu dilakukan, Google akan melarang manufaktur menginstal layanan seperti Google Chrome, Google Search, Gmail dan sebagainya sehingga Play Store pun tidak dapat dimunculkan.

Efek lain dari peraturan ini memaksa manufaktur untuk berinvestasi lebih besar dengan membuat Play Store versi mereka sendiri yang mana cenderung tidak menarik karena asing di mata pasar.

Hal ini pula yang terjadi pada Fire OS milik Amazon yang walaupun berbasiskan Android, kamu tidak akan menemukan satu pun layanan Google di sana.

Hancurkan persaingan sistem operasi lain

Symbian, BlackBerry, dan Windows Phone hancur di era yang sama, ketika Android muncul di bawah bendera Google. Bukan sebuah kebetulan bahwa ketiganya semakin minim pengguna akibat layanan Android yang bersifat tertutup dan mengikat.

Google memanfaatkan popularitasnya untuk membatasi ekosistem yang mereka buat. Sehingga sangat kecil peluang kompetitor untuk mengalahkan Android, tidak peduli seberapa besar dana yang mereka kucurkan, Android sudah mengunci pasar dengan strategi yang kurang elegan.

Android akan berubah, pasti!

Uni Eropa telah merilis laporannya, lalu Google membalas lewat tulisan di sebuah blog yang intinya menjawab segala tuduhan yang dilayangkan. Mereka berdalih bahwa Android tidak sedemikian tertutup sambil menyodorkan beberapa fakta bahwa banyak aplikasi pihak ketiga yang mendulang popularitas berkat kehadiran Android.

Google juga akan mengajukan banding atas masalah ini. Namun satu yang pasti, Android akan berubah cukup signifikan.

Manufaktur bisa saja lepas dari kewajiban menginstal aplikasi Google yang berarti memberi peluang bagi pengembang OS lain untuk ‘numpang’ ke dalam sistem Android. Bisa saja kita akan melihat smartphone Android tidak memiliki Google Assistant namun diganti dengan Cortana.