Lily Drone
Drone baru Lily Next Gen usai kegagalan generasi pertama

Bagi kamu yang aktif mengikuti perkembangan drone pada 2015, kemungkinan besar sudah pernah melihat video promosi drone bernama Lily. Video berdurasi kurang dari 2 menit tersebut berhasil menarik jutaan penonton, serta pre-order senilai $34 juta. Sayangnya, proyek drone Lily resmi dimatikan pada awal 2017 lalu akibat kekurangan dana.

Di tahun yang sama, perusahaan bernama Mota Group mengakuisisi aset Lily dan menawarkan drone baru bertajuk Lily “next-gen”. Drone tersebut masih menyematkan warna dan lambang emoji yang sama, tetapi desainnya berubah signifikan dari pendahulunya yang gagal.

Drone Lily Next-Gen menawarkan desain lipat, dengan kamera 4K dan kemampuan foto 13 MP. Drone baru Lily tidak bersifat waterproof, daya tahan terbang lebih pendek, dan tidak terlihat mampu diterbangkan secara otomatis dengan dilempar begitu saja. Pihaknya turut menyediakan remote control pada paket penjualan, bukan alat GPS tracking yang pernah dipromosikan sebelumnya.

Lily Next Gen
Lengan drone dapat dilipat untuk memudahkan disimpan dalam tempat terbatas

Awalnya Lily ditargetkan sebagai drone untuk para traveler yang gemar melakukan aktivitas di luar. Mota Group telah mencukur fitur-fitur yang menarik konsumen, dan menggantinya dengan sesuatu yang terkesan sangat biasa.

Terlepas dari itu, Mota Group tidak menggunakan dana dari para pemesan Lily sebelumnya karena sudah dikembalikan. Dengan kata lain, pengembangan drone murni dari pengeluaran perusahaan.

Sementara konsep “autonomous flying camera” yang diusung Lily gagal menembus pasar, setidaknya slogan serupa berhasil dibawakan oleh Skydio R1 tetapi dengan harga yang cukup tinggi untuk pasar mainstream.

Lily Next-Gen sudah tersedia sejak akhir 2017 lalu dan bisa dipesan saat ini juga. Paket dasar drone dibanderol mulai $699 atau Rp 9,5 juta sedangkan yang lebih tinggi seharga $899 atau Rp 12,1 juta.

Video Lily Next Gen dapat dilihat berikut ini: