Hyperloop Indonesia

Hyperloop Transportation Technologies (HTT) diketahui telah menandatangani studi kelayakan di Indonesia senilai $2.5 juta. Penandatanganan tersebut dilakukan di Kementerian Perhubungan dan disaksikan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Teknologi Hyperloop sendiri diajukan oleh Elon Musk yang menjadi CEO SpaceX dan Tesla. Sejak diumumkan pada Agustus 2013, Hyperloop diklaim akan menjadi transportasi darat tercepat yang memungkinkan jarak tempuh 1300 kilometer per jam. Dengan demikian Jakarta ke Bandung hanya perlu 9 menit saja.

Hyperloop Indonesia
Tak biasanya kendaraan berbau futuristik mau berinvestasi di negara berkembang

Lantas apa yang membuat HTT berminat untuk membangun fasilitas canggih ini di Indonesia? Apalagi kontrak ini disebut sebagai yang pertama di Asia Tenggara. Apa yang membuat Indonesia begitu istimewa?

Jawabannya adalah: macet!

Macet Jakarta

Bagi kamu yang tinggal di kota metropolitan seperti Jakarta, macet bukanlah sesuatu yang aneh. Justru ketika jalan raya sepi, itu baru disebut aneh.

Chairman Hyperloop Transportation Technologies Bibop Gresta menjelaskan jutaan warga Jakarta “menikmati” macet setiap harinya dengan durasi perjalanan pulang-pergi hingga 4 jam.

Ditambah lagi masalah ini turut menyumbang polusi udara. Diperkirakan 70 persen polusi udara berasal dari kendaraan bermotor.

Hyperloop Indonesia
Selain pembangunannya yang relatif murah, jalur Hyperloop juga bisa ditempatkan dimana saja

“Kemacetan lalu lintas adalah besar di sini, Hyperloop diharapkan akan hadir sebagai transformasi yang bisa diterima untuk di wilayah tersebut” kata Bibop.

Sistem Hyperloop dalam jangka panjang diharapkan bisa mengurai kemacetan dan mempercepat waktu tempuh. Misalnya dari Jakarta ke Yogyakarta memakan 10 jam dengan mobil, sementara Hyperloop hanya memerlukan waktu 25 menit.

Dengan populasi terbesar ke empat di dunia, mobilitas masyarakat juga tinggi. Dengan demikian sangat diperlukan moda transportasi yang handal demi menjawab isu yang dihadapi masyarakat.

Jika terbukti layak, kendaraan dengan prinsip levitasi magnet ini akan hadir di Indonesia setidaknya dalam lima tahun ke depan.