Xiaomi

Beberapa puluh tahun terakhir produk berlabel “made in China” mulai banyak ditemukan di hampir semua negara, termasuk Indonesia.

Terlepas dari stigma kualitas barang yang meragukan, faktanya China (Tiongkok) selalu sukses menjadi eksportir barang murah, terutama barang elektronik seperti gadget smartphone, laptop, tablet, dan sebagainya.

Saat ini ada tanda tanya besar yang terlintas dalam pikiran, mengapa barang-barang dari China harganya relatif lebih murah?

Berikut penjelasan singkatnya.

Lebih mengutamakan branding daripada keuntungan

Xiaomi Mi Mix
Bermula dari produk murah, tetapi berujung pada produk mewah

Sebenarnya ini salah satu strategi yang mulai banyak digunakan, contohnya Xiaomi. Perusahaan gadget ini sengaja memproduksi smartphone dengan harga kompetitif, dengan efek samping keuntungan yang mereka terima lebih kecil. Tetapi di sisi lain popularitasnya melambung tinggi dan sejak saat itu mereka mulai berani merilis smartphone kelas high-end.

Maraknya home industry untuk memproduksi barang setengah jadi

China Home Industry
Dibuat di industri rumahan, baru dirakit di pabrik besar. Itulah strategi yang menguntungkan

Gadget yang kamu pakai untuk membaca artikel ini sebetulnya dibuat di industri rumahan. Lantas harga masing-masing komponen menjadi lebih murah karena yang digaji adalah pegawai rumahan. Sementara itu proses perakitan barang setengah jadi dilakukan di pabrik.

Dukungan pemerintah, tak sedikit perusahaan yang dibebaskan dari pajak

China Government
China menjadi negara yang dilirik para pengusaha

Sejak 2009, pemerintah China telah berusaha mengurangi beban usaha kecil dan mikro dengan membebaskan pajak bagi UKM yang beromzet kurang dari 20.000 yuan (Rp 40 juta). Sekitar 90% perusahaan di China adalah UKM, sisanya adalah perusahaan besar.

Kualitas produk disesuaikan permintaan pasar

OnePlus 3
Mau barang termurah sampai termahal bisa diproduksi disini

Fleksibel, ketua Persatuan pengusaha Tionghoa Indonesia Richard Tan mengatakan perusahaan China menyesuaikan order. Mereka bisa memproduksi barang dengan spesifikasi apapun berdasarkan batas harga yang diminta. Tak heran jika banyak smartphone dari China dijual dari harga rendah sampai tinggi.

Lebih banyak penduduk artinya lebih banyak tenaga kerja

Mass Production China
Jumlah penduduk yang sedemikian besar sangat membantu menunjang perekonomian disana

China saat ini memegang rekor sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Potensi tersebut tidak bisa dianggap remeh, sebab hal tersebut mempermudah menjalankan proses mass production yang dapat memperkecil pengeluaran saat produksi.

Ekspor barang dari China ke luar negeri disubsidi oleh pemerintah

China Export Charge
Mulai dari subsidi sampai bebas biaya ekspor

Barang setengah jadi yang diekspor diberi subsidi oleh pemerintah sehingga perusahaan tidak membayar biaya penuh. Menariknya barang jadi justru tidak dikenakan bea ekspor. Otomatis lebih banyak perusahaan yang tertarik untuk memproduksi barang jadi dan mengekspornya ketimbang barang setengah jadi.

Demi menjaga harganya tetap murah, China memastikan Yuan lebih rendah dari US Dollar

Yuan vs Dollar
Nilai tukar rendah tidak selalu berarti buruk, justru ada peluang dibaliknya

Terdengar aneh tetapi jika didalami, regulasi ini cukup masuk akal. China tidak tertarik memperbesar nilai Yuan, justru berusaha tidak melebihi Dollar Amerika. Setidaknya 30% sampai 40% di bawah Dollar. Dengan demikian barang dari China yang masuk ke Amerika harganya juga lebih rendah dibanding yang diproduksi disana.

Beberapa poin di atas hanya berupa rangkuman kecil dari kompleksitas industri manufaktur di negeri tirai bambu itu. Tentu ada begitu banyak faktor lain yang juga mempengaruhi harga barang.

Boleh dibilang China menggunakan strategi militer yang terinspirasi dari buku The Art of War karangan filsuf abad ke 6. Pada akhirnya negara ini sukses mencatatkan diri sebagai negara pengekspor terbesar di dunia.