AI Learns the Art of Debate 0-16 screenshot
Juara kompetisi debat keok saat berhadapan dengan kecerdasan buatan (credit: IBM)

Skakmat! Itulah yang dialami Gary Kasparov, pecatur terbaik dunia yang dikalahkan oleh kecerdasan buatan besutan IBM pada 1997. Kala itu kecerdasan buatan masih menjadi satu hal yang asing. Namun usai 20 tahun berlalu, ia semakin pintar dan mampu mengalahkan manusia dalam beberapa bidang.

Dijuluki Project Debater, IBM kembali memamerkan kehebatannya dalam meracik kecerdasan buatan yang cukup menakutkan bagi lawannya, dalam hal ini, manusia. Ya, sebagai kelanjutan dari ajang debat pada 2014 lalu, Project Debater mampu menyaring informasi yang akurat dan terpercaya agar bisa dijadikan referensi dalam berargumen terhadap lawan debatnya.

Menurut laporan dari BBC, IBM telah memberi ‘makan’ jutaan informasi dari jurnal dan dokumen kepada Project Debater. Dalam debat yang berlangsung di San Fransisco pada 17 Juni lalu tidak ada jaringan internet yang bisa dipakai. Lantas, si kecerdasan buatan hanya mengandalkan dokumen yang tersedia offline. Menariknya, subjek debat tidak diberitahukan terlebih dahulu sehingga IBM memasukkan ratusan topik acak sambil berharap salah satu atau lebih muncul dalam kompetisi debat.

Di pihak lawan adalah Noa Ovadia, pemenang kejuaraan debat pada 2016 lalu di Israel. Masing-masing pihak mendapat waktu 4 menit untuk mengeluarkan argumen, diikuti 4 menit penyanggahan, dan 2 menit untuk kesimpulan.

Sementara itu topik yang diperdebatkan ialah penggunaan dana publik untuk eksplorasi luar angkasa. Project Debater berada di sisi pro dan Ovadia di sisi kontra.

“Sangat mudah mengatakan bahwa ada banyak hal penting lain yang membutuhkan uang, dan saya tidak bisa membantah ini,” kata Project Debater menanggapi argumen Ovadia.

“Tidak ada orang yang mengklaim bahwa ini (proyek luar angkasa) adalah satu-satunya hal yang ada dalam daftar pengeluaran. Namun bukan itu intinya. Dengan mensubsidi eksplorasi ruang angkasa akan jelas menguntungkan bagi masyarakat, saya meyakini bahwa ini adalah sesuatu yang harus dikejar oleh pemerintah.” lanjutnya.

Hasil dari voting memutuskan Project Debater memenangkan argumen karena lebih informatif.

Namun Project Debater sendiri masih belum sempurna. Ia cenderung mengulangi kata yang sama atau menggunakan kosa kata yang kurang tepat. Pada akhirnya kualitas argumennya pun bergantung pada data yang ia miliki.

Kamu bisa melihat video singkat Project Debater berikut ini: