Sequent Smartwatch
Tidak perlu khawatir muncul peringatan baterai lemah, sebab smartwatch ini bisa memproduksi energinya sendiri

Perangkat elektronik perlu energi untuk mengoperasikannya, jika tidak tersambung pada stopkontak listrik, menggunakan baterai adalah pilihan mainstream bagi para manufaktur produk elektronik. Beberapa perusahaan mulai mengembangkan fitur hemat baterai, bahkan ada pula yang menawarkan daya tahan baterai yang tak akan habis.

Startup asal Swiss mengumumkan produk smartwatch bernama Sequent yang diklaim tidak memerlukan pengisian baterai konvensional. Smartwatch ini dapat mengubah energi kinetik menjadi energi listrik yang digunakan untuk operasional jam. Konversi listrik semacam ini sebelumnya pernah digunakan pada power bank bernama HandEnergy.

Sequent Smartwatch
Sequent sejatinya adalah jam tangan mekanik dengan implementasi smartwatch

Sequent tidak menggunakan layar seperti pada smartwatch pada umumnya, melainkan formasi jam mekanik. Hal ini untuk mengurangi konsumsi energi pada perangkat. Meski demikian smartwatch tersebut sudah sepaket dengan GPS, health trackeraccelerometer, Bluetooth 4.2, dan sejumlah fungsi smartwatch lainnya.

Smartwatch juga bersifat waterproof dan dapat bertahan di kedalaman hingga 50 meter. Jadi tidak perlu khawatir untuk membawanya mandi atau berenang. Sequent dapat terhubung ke smartphone Android dan iOS untuk menampilkan hasil monitoring health tracker serta mengaktifkan fitur-fitur lain.

Karena memanfaatkan energi kinetik, waktu olahraga adalah momen terbaik untuk mengisi baterai Sequent. Meski demikian aktivitas sehari-hari sudah cukup untuk menjamin baterai tidak sekarat.

Sequent Smartwatch
Di dalam jam terdapat genrator mikro terkecil di dunia

Sequent bukanlah smartwatch pertama yang menyematkan teknologi self charging. Produk crowdfunding serupa bernama Matrix memanfaatkan panas tubuh pemakainya untuk diubah menjadi listrik.

Di halaman Kickstarter-nya, Sequent edisi super early bird ditawari mulai Rp 1.9 juta per unitnya. Biaya tersebut akan melonjak menjadi Rp 5.8 juta setelah sampai di retail. Proses manufaktur akan dimulai pada Agustus, sementara pengiriman perdana dilakukan setidaknya pada Desember mendatang.