Bahaya Rokok Elektrik
Apakah rokok elektrik tidak seberbahaya rokok tembakau?

Rokok elektrik lebih aman dari rokok tembakau. Kira-kira seperti itulah teknik pemasaran yang terus disuarakan para produsen dan distributor rokok elektrik. Namun klaim tersebut tidak sejalan dengan berbagai penelitian yang telah dilakukan. Lembaga kesehatan nasional hingga internasional menguatkan sinyal bahwa klaim “lebih aman” tidak lebih dari gimmick marketing.

Menu “vape” sudah lazim ditemukan di beberapa kedai makanan. Bahkan tidak sulit menemukan sekelompok remaja berseragam yang tengah menikmati vape bersama-sama. Biaya yang relatif terjangkau serta varian rasa turut andil dalam mempertajam popularitas rokok elektrik.

Hasil studi dengan metode electro optical screening yang dilakukan oleh University of Connecticut menunjukkan kerusakan DNA yang dihasilkan rokok elektrik setara dengan rokok tembakau tanpa filter.

Bahaya Rokok Elektrik
Rokok elektrik (EC) diperkirakan punya tingkat kerusakan yang sama dengan rokok tembakau (nf-TC)

“Saya tidak pernah mengira kerusakan DNA akibat rokok elektrik setara dengan rokok tembakau” kata Karteek Kadimisetty yang menjadi pimpinan studi. Dirinya mengaku terkejut dengan hasil ini, namun tren “rokok elektrik lebih aman” masih berlanjut. Padahal kerusakan DNA tidaklah main-main.

Penelitian ini belum bisa menyebutkan secara spesifik zat kimia yang berbahaya dalam rokok elektrik. Namun mereka mengkonfirmasi kerusakan genetik benar-benar terjadi. Namun menariknya penelitian tahun 2016 dari British American Tobacco yang menggunakan metode berbeda mengatakan rokok elektrik tidak berdampak pada DNA.

Bahaya Rokok Elektrik
Zat racun rokok yang tersimpan dalam wadah kecil hampa udara

Terlepas dari itu para saintis masih berusaha menemukan jawaban mutlak terkait hal ini. Entah mana yang lebih berbahaya, rokok elektrik atau rokok tembakau, memilih untuk berhenti merokok bukanlah sesuatu yang berbahaya.