Google AI Predict Death
AI 'peramal' kematian justru dapat dipakai untuk menentukan perawatan terbaik bagi pasien (credit: Parentingupstream/Pixabay)

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) punya manfaat besar bagi manusia, seperti melakukan panggilan telepon, mobil kemudi otonom, bahkan kemampuan berimajinasi bagi robot. Raksasa internet, Google mempublikasikan sebuah penelitian yang menjelaskan bagaimana AI buatan mereka mampu memprediksi kapan seseorang akan meninggal.

Dalam studinya, neural network diberi data kompleks seputar kondisi vital pasien, umur, etnis, dan riwayat medis untuk membuat prediksi. Hasilnya, tingkat akurasi AI bikinan Google ini mencapai 95 persen, berbanding 86 persen jika menggunakan metode tradisional atau perhitungan manusia.

Alih-alih menakuti, AI tersebut justru membantu dokter terkait perawatan apa yang perlu dilakukan terhadap sang pasien. Dengan begitu, potensi kematian pun dapat direduksi.

Google menggunakan data dari 216 ribu pasien dewasa di dua rumah sakit di Amerika Serikat. Namun, seperti dikutip dari Futurism, penggunaan AI di rumah sakit akan menjumpai banyak masalah.

Intervensi dari Google dapat mengeksploitasi industri kesehatan dan menjadi berpeluang menjadi monopoli. Selain itu, AI juga harus melewati berbagai pengujian kunci agar menjadikannya layak digunakan sebagai pendamping petugas kesehatan. Sebelumnya anak perusahaan Alphabet, DeepMind Health kedapatan mengoleksi data pasien di Britania Raya tanpa persetujuan.

Terlepas dari manfaatnya, AI ‘peramal’ kematian masih belum akan mainstream di banyak rumah sakit kecuali jika sudah ada pengaturan yang membatasinya, atau setidaknya tidak mencegah tindak monopoli.