Citra satelit dari sudut pandang yang disinari matahari sangat mudah kita temukan lewat internet. Sementara itu sisi gelap atau sisi malam memiliki daya tarik yang membuat ilmuwan sengaja merancang satelit khusus untuk mengamati bumi di malam hari.

Satelit Suomi National Polar-orbiting Partnership yang diluncurkan sejak 2011 secara konsisten menangkap citra Bumi di sudut gelapnya. Hasil foto menunjukkan beberapa konsentrasi cahaya pada beberapa wilayah yang mengindikasikan aktivitas manusia. Kota metropolitan seperti Jakarta memiliki cahaya yang cukup kentara dari angkasa.

Pengamatan Suomi didukung oleh sistem infrared yang mampu menangkap foton cahaya yang dipantulkan Bumi. Dengan sensitivitas tinggi, ilmuwan dapat membedakan intensitas lampu, penyebaran cahaya, dan memantau perkembangan penyaluran listrik.

Foto Bumi di Malam Hari
Semakin banyak cahaya berarti banyak penduduk yang tinggal disana

Di foto terbarunya, negara-negara padat penduduk seperti Amerika Serikat, China, dan India memiliki penyebaran intensitas cahaya yang cukup merata. Termasuk Eropa yang hampir seluruhnya menyinari cahaya. Tetapi di beberapa tempat terlihat sangat sedikit cahaya, diantaranya Indonesia.

Konsentrasi cahaya terpusat di pulau Jawa. Pulau Sumatera sebagian besar berada di sisi kanan. Sedangkan Kalimantan dan Sulawesi memang tidak begitu padat penduduknya sehingga cahaya hanya terlihat samar-samar.

Pulau Papua dan wilayah barat Indonesia masih gelap gulita. Hal ini selaras dengan suplai listrik disana yang belum menyeluruh, hanya di kota-kota besar saja yang bisa menikmati lampu di malam hari.

Foto Bumi di Malam Hari
Eropa dan sekitarnya terhitung memiliki akses listrik yang merata

Dengan kata lain foto Bumi di malam hari yang dipotret pada sebelumnya pada 2012 dengan 2017 tidak mengindikasikan adanya perbedaan terhadap bagian barat Indonesia. Tetap konsisten pada kegelapan yang menyeluruh.

Mungkin data ini akan menjadi pertimbangan tersendiri bagi penyedia listrik atau pejabat terkait untuk mulai menyalurkan “kesejahteraan” disana.

Satelit Suomi mengorbit secara vertikal dari kutub-kutub di ketinggian 3.000 kilometer. Setiap data yang diolah Suomi boleh diakses publik secara cuma-cuma, baik untuk ilmuwan maupun masyarakat awam. Kamu bisa melihatnya disini.