NUS Engineering

Drone telah dikembangkan ke berbagai aplikasi, seperti taksi terbang, penjaga pantai, bahkan usaha penghijauan dengan menanam ratusan ribu pohon setiap hari. Tantangan terbesar bagi drone ialah durasi terbang yang hanya berkisar antara 10 sampai 30 menit. Terlebih jika membawa beban berat, durasinya bisa menyusut dari itu.

Alih-alih menambah efisiensi daya baterai, tim dari National University of Singapore (NUS) memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber tenaga drone. Alhasil drone bisa mengudara lebih lama dibanding drone pada umumnya.

Panel surya ringan selebar 4 meter persegi

Tim dari NUS mengandalkan panel surya berbahan silikon yang ringan. Dibentangkan di setiap ujung drone dengan lebar 4 meter persegi. Material kerangka drone sendiri menggunakan karbon fiber yang dikenal ringan namun sangat kuat. Bobot drone sendiri hanya sekitar 2,6 kilogram.

Tanpa baterai, murni tenaga matahari

Profesor Aaron Danner yang memimpin proyek ini mengatakan mereka pernah membuat drone serupa pada 2012 lalu. Hanya saja, saat itu masih mengandalkan tenaga baterai serta di saat yang sama mengisi ulang energi melalui sinar matahari.

Kali ini baterai sepenuhnya dilepas sehingga murni menggunakan energi dari panel surya. Dengan kata lain, selama matahari bersinar, drone tetap akan terbang.

Tetap bisa dipasang baterai pada kondisi tertentu

Matahari tidak selalu bersinar, khususnya dalam kondisi mendung atau malam hari. Untuk itu, drone tetap bisa dipasangkan baterai jika sinar matahari tidak cukup untuk menerbangkan drone secara mandiri.

“Armada kami sangat ringan untuk ukurannya, dan bisa terbang selama ada matahari, bahkan selama beberapa jam,” kata Danner.

Inovasi drone bertenaga surya tanpa baterai oleh NUS merupakan yang pertama di Asia. Pasalnya Queen Mary University of London telah mengumumkan temuan serupa pada 2013 lalu.

Lihat video prototipe drone bertenaga surya buatan mahasiswa NUS: