Berlatih secara militer otomatis memaksa otot bekerja lebih berat yang pada akhirnya para prajurit TNI lebih cepat merasa haus, terlebih jika latihan dilakukan di wilayah dengan atmosfer kering.

Menjawab tantangan ini, Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AD menciptakan alat (prototipe) yang berfungsi mengkonversi udara menjadi air minum. Mayor Tejo Basuki selaku Kepala Pengumpul Data Dislitbang AD mengatakan unsur hidrogen yang terkandung dalam udara diikat oleh alat tersebut untuk selanjutnya dikumpulkan.

Prototipe berukuran cukup besar ini mampu menghasilkan setengah liter air dalam waktu satu jam. Tenaga bersumber dari panel surya dengan total daya yang diperlukan mencapai 3.040 watt.

Mesin Pengubah Udara Menjadi Air Minum Dislitbang TNI AD
Satu kelemahan dari mesin ini terletak pada fisiknya yang begitu besar dan perlu tenaga ekstra untuk dipindah

Namun air yang dihasilkan tidak langsung bisa diminum. Air tersebut harus melalui proses Reverse Osmosis yakni tahap pemurnian sampai kadar tertentu hingga layak diminum.

Meski terasa baru, teknologi serupa sudah pernah dibuat di sebuah proyek crowdfunding bernama Fontus. Produk yang dirancang oleh Kristof Ratezar tersebut juga mengandalkan tenaga surya untuk pengembunan.

Mayor Tejo juga menyebut sistem ini akan difungsikan di medan tempur yang kering dan sulit menerima pasokan air. Tentunya kita berharap Dislitbang TNI dapat mengimprovisasi teknologinya lebih baik ketimbang kompetitor.

Berikut videonya: