China Reusable Rocket
Beberapa komponen yang menjadi ciri khas Falcon 9 juga tersemat pada roket ini

SpaceX sukses menjadi game changer dalam bidang keantariksaan. Sementara perusahaan antariksa lain membuang roketnya usai peluncuran, SpaceX melalui Falcon 9 memilih untuk menyelamatkan roket tersebut dan menggunakannya kembali sehingga biaya peluncuran bisa ditekan.

Ide brilian ini terdengar oleh China, pihaknya mengumumkan bahwa mereka sedang mengembangkan roket yang bisa digunakan kembali. Usai pemisahan, booster akan terjun ke darat menggunakan parasut, kemudian saat mendekati daratan sensor akan memberi respon dengan mengembangkan airbag untuk mereduksi efek tabrakan.

Namun sebuah foto yang beredar di internet tampaknya menunjukkan bahwa China memiliki opsi lain dalam pengembangan roket daur ulang. Foto tersebut menunjukkan model yang bisa dikatakan hampir sama persis dengan roket milik SpaceX, Falcon 9.

China Reusable Rocket
Roket ini diberi nama Shinkansen One Small Launch Vehicle

Dikutip dari China Spaceflight, tinggi roket sekitar 20 meter, lebar 1,8 meter dengan berat saat lepas landas 30 ton, sementara muatan antara 150-200 kilogram. Biaya satu kali peluncuran sekitar Rp 60 miliar ke orbit rendah Bumi. Di sisi lain SpaceX dengan harga yang sama bisa mengirim muatan dengan bobot hampir 23 ton.

Bagian seperti grid fins dan landing legs yang menjadi ciri khas Falcon 9 turut hadir pada roket bertuliskan “Link Space” tersebut. Link Space sendiri merupakan perusahaan antariksa swasta pertama dari China yang didirikan oleh pengusaha muda Hu Zhenyu.

Falcon 9 SpaceX
Roket Falcon 9 milik SpaceX yang bisa mendarat kembali usai mengangkasa

Zhenyu pernah mengatakan ia sangat familiar dengan SpaceX, ia mengklaim tidak akan menyalin dari SpaceX atau siapapun. Namun dengan beredarnya foto ini menjadi sebuah tanda tanya besar bagi idealisme Zhenyu. Apakah perusahaannya benar-benar merancang roket secara mandiri atau mengambil konsep dari perusahaan lain.

Elon Musk, CEO dari SpaceX mengakui perusahaan antariksa yang dipimpinnya tidak punya kuasa atas paten. “Kami pada dasarnya tidak memiliki paten di SpaceX.” kata Musk dalam wawancaranya dengan Wired. Ia juga mengatakan China sangat mungkin menjadi kompetitornya di masa depan.

Terlepas dari itu, kehadiran China dipastikan membuat persaingan perusahaan antariksa semakin sengit yang secara tidak langsung mempercepat kelahiran inovasi-inovasi baru.