Perusahaan swasta dengan berani menawarkan tiket menjelajahi luar angkasa pada dekade ini

Jika kamu ingin menguji seberapa batas kesabaranmu, berdebat dengan penganut kosmologi Bumi datar atau Flat Earth mungkin bisa menjadi pilihan. Sebab, tidak peduli dengan argumen dan bukti ilmiah yang kamu paparkan, semua hanya akan dianggap gambar CGI hasil konspirasi NASA.

Jika berdebat secara ilmiah sudah tidak mempan, maka mengajak para Flat Earthers melihat langsung bentuk Bumi dari luar angkasa akan menyadarkan mereka.

Kabar baik untuk kamu yang lahir di era digital, sebab pada dekade ini mulai bermunculan perusahaan antariksa swasta yang menawarkan paket wisata ke luar angkasa. Sejumlah pengujian kendaraan angkasa juga sudah siap membawa turis pada ketinggian dimana lengkungan planet kita terlihat jelas.

Beberapa perusahaan berikut ini sudah menjual tiket ke luar angkasa dengan tanggal perjalanan yang tinggal hitungan tahun saja. Siapa saja perusahaan tersebut?

Virgin Galactic

Didirikan pada 2004 oleh bos Virgin Group, Richard Branson perusahaan ini membuka kesempatan bagi publik untuk merasakan suasana di luar angkasa menggunakan pesawat yang disebut White Knight Two dan The Feather.

Perusahaan telah melakukan serangkaian pengujian pada beberapa tahun terakhir. Pesawat nantinya akan mencapai ketinggian 110 km yang mana sudah melebihi Karman Line atau garis batas antara atmosfer Bumi dan angkasa. Saat ini sudah ada sedikitnya 700 calon penumpang yang telah mendaftar.

Blue Origin

CEO Amazon, Jeff Bezos melebarkan sayap bisnisnya hingga ke wisata. Namun bukan di Bumi, melainkan di luar angkasa. Blue Origin yang didirikan pada tahun 2000 secara gamblang memfokuskan kinerjanya untuk membangun roket yang mampu membawa wisatawan pada ketinggian ekstrim.

Roket New Shepard pertama kali melakukan uji coba pada 2015 lalu. Kapsul penumpang memiliki sejumlah kaca berukuran sangat besar sehingga memberikan pemandangan cakrawala yang lebih lebar. Mirip seperti Falcon 9, modul peluncur dapat mendarat kembali ke Bumi. Blue Origin menargetkan misi berawak pertama pada tahun ini.

SpaceX: Dragon V2

Meski saat ini sedang sibuk dalam proyek satelit, SpaceX sejatinya memiliki tujuan utama untuk memudahkan manusia berpindah ke luar angkasa. Perusahaan milik Elon Musk ini mengumumkan kapsul berawak Dragon V2 yang siap membawa astronot ISS hingga bahkan wisatawan.

SpaceX mengatakan telah memiliki dua turis perdana yang akan mereka kirim ke objek angkasa terdekat Bumi, yakni Bulan. Modul tersebut akan dibawa oleh roket Falcon Heavy pada akhir 2018 mendatang.

SpaceX: BFR

 

BFR yang merupakan akronim dari Big Falcon Rocket diumumkan oleh Elon Musk merupakan roket serbaguna yang dapat dipakai untuk mengirim satelit, membawa manusia ke Mars, atau perjalanan sub-orbital di luar Bumi.

Musk memiliki ide untuk memanfaatkan BFR sebagai sarana transportasi super cepat dimana roket diluncurkan ke angkasa pada kecepatan 27.000 km per jam lalu mendarat kembali di titik tujuan. Soal tiket, harganya akan setara pesawat penumpang berkat sistem roket yang seluruhnya bisa dipakai kembali.

Roscosmos

Roscosmos sejatinya bukan perusahaan, melainkan lembaga antariksa negara milik Rusia. Namun tidak ada salahnya dimasukan dalam daftar sebab Roscosmos memang sudah mengirimkan sedikitnya 7 orang turis ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Tujuh turis tersebut merupakan miliarder yang membayar setidaknya $20 juta untuk tiket peluncuran, penginapan antara 1-2 minggu, dan pulang kembali. Sayangnya, Rusia tidak lagi menerima paket wisata karena jumlah astronot di ISS yang semakin banyak dan tidak memungkinkan menambah penghuni baru.


Perjalanan ke luar angkasa memang sangat mahal, sehingga hanya ada dua cara untuk mendapatkannya: menjadi astronot atau menjadi miliarder. Namun dengan teknologi aeronautika yang lebih ekonomis dan sistem peluncur daur ulang menjadi modal utama untuk mewujudkan wisata antariksa yang murah.

Dari beberapa perusahaan di atas, manakah yang akan mengirim turis pertama? Apakah SpaceX, Virgin Galactic, atau justru Blue Origin dengan roket New Shepard miliknya?