Gempa Bumi
Apakah kita memiliki teknologi untuk memprediksi gempa? (credit: Financial Express)

Dua gempa yang terjadi di bagian barat Pulau Jawa terasa hingga Jakarta. Kedua gempa yang berada di perairan Lebak, Banten tersebut pertama berkekuatan 6,1 skala Richter (SR) yang terjadi hari Selasa. Kemudian sehari setelahnya terjadi kembali gempa di daerah yang sama berkekuatan 5,1 SR.

Dilaporkan ratusan rumah rusak di wilayah dekat pusat gempa. Sementara di Jakarta, terjadi kepanikan hebat khususnya orang yang beraktivitas di dalam gedung bertingkat. Turun tangga hingga lantai dasar tentu terlalu memakan waktu sejak lift tidak bisa dioperasikan dalam kondisi tersebut.

Lantas, mengapa tidak ada peringatan sebelum gempa? Justru yang ada hanya informasi kekuatan, lokasi, dan kedalaman titik gempa. Apakah gempa bumi bisa diprediksi?

Sayangnya saat ini ilmuwan dari seluruh dunia belum menemukan metode yang tepat untuk memprediksi kapan terjadinya gempa secara spesifik, hingga lokasi, dan potensi wilayah terdampaknya.

Mengapa gempa tidak bisa diprediksi?

Gempa Tektonik
Bumi terlalu besar dan terlalu luas untuk diprediksi aktivitasnya secara presisi

Sejumlah saintis telah mencoba menemukan cara memprediksi gempa agar lebih banyak orang dapat dievakuasi sebelum kejadian. Namun sangat sulit untuk melakukan studi pada lempeng tektonik.

Ilmuwan bernama Mike Blanpied yang bekerja untuk badan geologi Amerika Serikat USGS mengatakan getaran sudah bisa dideteksi sebelum gempa, namun kemudian gempa datang terlalu cepat sehingga tidak ada waktu untuk memberi peringatan pada warga sipil.

Proses terjadinya gempa berada jauh di bawah permukaan Bumi. Lempengan tektonik yang menabrak satu sama lain dapat menyebabkan gempa, tetapi interaksinya terlalu kompleks dan sangat sulit dipelajari.

Perlu diingat bahwa daratan yang kita diami sejatinya “mengambang” di atas lautan magma kental yang selalu bergerak dan bertubrukan jika bertemu lempeng lain. Meski posisi lempeng telah dipetakan seluruhnya, tetapi untuk memprediksi pertemuan antara lempeng satu dengan lempeng lain hampir mustahil dilakukan.

Apakah ada teknologi yang berusaha memprediksi gempa?

Teknologi Prediksi Gempa
Kenyataannya lebih mudah membuat alat untuk mencari korban gempa dibanding memprediksi gempa itu sendiri (credit: NASA)

Usaha selalu ada, tetapi hasil tidak selalu yang diharapkan. Beberapa peneliti yakin pengeluaran unsur radioaktif dari tanah, seperti Radon dapat menjadi peringatan dini sebelum gempa. Tetapi mekanisme tersebut gagal dibuktikan.

Percobaan lain adalah dari startup bernama Quake Finder yang bermarkas di Silicon Valley yang menempatkan 200 sensor untuk melacak perubahan medan magnet yang dapat diindikasikan sebagai sinyal sebelum gempa. Terdengar bisa diterima secara teori, tetapi USGS tidak mendukung proyek tersebut karena kurang dapat diandalkan.

Metodologi untuk memprediksi gempa harus akurat di keseluruhan aspeknya agar tidak menjadi peringatan palsu dan menghebohkan publik.

Apakah hewan bisa menjadi awal peringatan gempa?

Hewan Prediksi Gempa
Beberapa hewan memiliki ‘sensor’ untuk membaca kondisi alam, termasuk gempa (credit: CNN)

Beberapa laporan dari seluruh dunia menyebut ada aktivitas hewan-hewan tertentu yang tidak biasa sesaat sebelum terjadinya gempa. Contohnya pada gempa di Italia tahun 2009, sekitar 96 persen katak jantan menyingkir dari daerah itu sehari sebelum terjadinya gempa.

Getaran sebelum gempa dapat terdengar pada level infrasonik, yang mana beberapa hewan seperti jangkrik, paus, gajah, dan merpati bisa mengenalinya. Perilaku mereka akan sedikit aneh pada saat mendengar suara asing tersebut.

Meski demikian, hewan tidak sepenuhnya bisa memprediksi gempa. Aktivitas aneh hewan sebelum gempa hanya bersifat “kebetulan” dan asumsi, serta tidak konsisten dengan gempa-gempa yang terjadi sesudahnya.

Hingga saat ini ilmuwan baru bisa memprediksi gempa secara umum. Misalnya akan terjadi gempa yang akan mengguncang San Fransisco, Amerika Serikat dalam kurun 30 tahun ke depan. Hanya sebatas informasi itu, tidak ada detil lokasi, waktu, dan kekuatannya.

Sampai alat pendeteksi gempa ditemukan, kita hanya bisa melakukan tindakan preventif seperti membangun rumah tahan gempa dan memahami hal-hal yang harus dilakukan saat gempa bumi berlangsung.