Harga Bitcoin
Nilai Bitcoin diklaim akan runtuh

Nilai Bitcoin melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir dari yang hanya Rp 100 juta per koin kini melebihi Rp 230 juta hanya dalam waktu singkat. Popularitasnya pun meningkat seiring bertambahnya jumlah miner Bitcoin.

Sebagian pemilik Bitcoin menjualnya saat harga sedang naik. Tetapi kebanyakan tetap menyimpan sambil berharap akan ada kenaikan lagi di masa depan. Namun lembaga analisa investasi dan ekonomi, Morgan Stanley melalui James Faucette menyebut nilai mata uang digital sebenarnya tidak ada atau nol.

Faucette bersama timnya mengatakan bahwa sangat sulit mendifinisikan nilai suatu cryptocurrency. Meski saat ini Bitcoin bisa dijual seharga Rp 200 juta atau lebih, namun ia tidak mempunyai nilai intrinsik seperti emas.

“Jika tidak ada lagi yang menerima teknologi (Bitcoin) sebagai alat pembayaran, maka nilainya akan menjadi nol,” simpul Faucette, dikutip dari Business Insider.

Bitcoin eCommerce
Jumlah eCommerce yang menerima Bitcoin secara resmi (credit: Morgan Stanley)

Ia juga memberikan data “mengenaskan” jumlah e-Commerce yang menerima pembayaran Bitcoin. Dari 500 raksasa pasar digital, kini hanya 3 saja yang menerima metode pembayaran tersebut. Padahal di awal 2016 masih ada 5 yang bersedia.

Meski sangat aman, namun Bitcoin dibangun di atas pondasi yang rawan. Nilai mata uang digital ini sangat bergantung pada prinsip dasar ekonomi, yakni supply dan demand. Apabila ditinggalkan pengguna, nilainya akan terus turun. Begitu pula sebaliknya jika banyak pemakainya, Bitcoin akan semakin berharga.

Saat ini negara seperti Rusia dan China telah melarang Bitcoin sebagai alat transaksi pembayaran. Sementara itu di Tanah Air, Bank Indonesia melarang pelaku e-commerce dan layanan keuangan menggunakan Bitcoin dalam bisnisnya. Namun transaksi secara perorangan masih diperbolehkan.