GoPro Action Cam
GoPro mulai kepayahan menghadapi kompetisi super ketat (credit: StockSnap)

Perusahaan kamera aksi GoPro memprediksi penjualannya akan turun antara 11-15 persen pada setiap kuartal. Namun kenyataannya justru lebih buruk, yakni terjun hingga 37 persen meski pihaknya telah memotong harga produk hingga jutaan rupiah per unitnya.

Jika kamu memantau kondisi saham GoPro dalam beberapa bulan terakhir, sama sekali tidak ada tanda-tanda munculnya kenaikan. Keputusan mengubah status perusahaan sebagai go public memang membuat GoPro mendadak kaya berkat suntikan dana investor yang sangat besar. Namun, tahun-tahun setelahnya, GoPro terlihat seperti sedang membakar uang tanpa pemasukan berarti.

Berikut ini beberapa alasan kuat mengapa GoPro semakin mengarah pada kebangkrutan saat ini.

Jajaran produk yang sudah tidak original

Gopro Hero Session Polaroid Cube
Bukannya mendikte pasar, GoPro justru dikontrol pasar (credit: DansTube.TV)

GoPro memang memiliki desain kamera original, terutama pada jajaran Hero. Tetapi di luar dari itu, GoPro terasa seperti Apple yang kehilangan Steve Jobs. Mereka mulai bingung menentukan arah produk dan akhirnya mengadopsi kompetitor lain. Sebut saja Hero 4 Session yang mirip dengan Polaroid Cube. Atau kamera 360 GoPro Fusion yang terkesan seperti saudara kembar dengan Ricoh Theta.

Ambisi memiliki media

Gopro Stock
Rencana GoPro membangun perusahaan media tertuang dalam IPO 2014 (credit: SiliconBeat)

Kesalahan lainnya ialah ambisi memiliki media di samping bisnis utamanya. GoPro telah mempekerjakan sejumlah staff dari media terkemuka, seperti MTV, Warner Music, CBS, HBO, dan Hulu. Tetapi tidak begitu lama berdiri, media GoPro kalah pamor dengan senior yang sudah lama dikenal publik. Setelah terus-menerus menyakiti keuangan perusahaan, divisi media tersebut akhirnya ditutup pada November 2016 bersamaan dengan kondisi penjualan sektor kamera yang tidak kunjung membaik.

Merilis kamera yang membunuh produknya sendiri

GoPro Hero
Kamera murah GoPro justru memangsa versi yang lebih mahal (credit: ExpertReviews)

Kamera GoPro harus diakui mematok harga yang cukup tinggi mengingat spesifikasinya yang juga di atas rata-rata. Berharap bisa bersaing di pasar low-end, GoPro merilis kamera Hero+ dan Hero+ LCD yang lebih murah. Sayangnya, ini juga berarti menghilangkan calon konsumen yang seharusnya membeli versi lebih tinggi. Akhirnya, proses produksi dihentikan. Keputusan yang tepat, tetapi agak terlambat menyelamatkan perusahaan.

Gagal paham soal produk Virtual Reality

GoPro Omni
Maukah kamu membeli 6 kamera GoPro untuk video 360 derajat? (credit: CNET)

Usai video 360 derajat didukung banyak media sosial, GoPro buru-buru merilis Omni dan Odyssey untuk merekatkan banyak kamera sekaligus agar menghasilkan kamera 360 derajat. Awalnya, usaha GoPro mendapat perhatian dari Google dalam program Jump VR. Tetapi tidak butuh waktu lama bagi Google untuk menyadari bahwa peralatan yang digunakan GoPro terlalu mahal, sementara produsen lebih menginginkan kamera semurah mungkin.

Terlalu meremehkan kekuatan DJI

Karma Drone
Keterlambatan rilis membuat Karma kehilangan momentumnya (credit: Mashable)

Produk drone GoPro Karma gagal total di pasaran. Selain masalah teknis yang memaksa pihaknya menarik ribuan unit dari peredaran, GoPro juga terlalu meremehkan DJI yang kini memegang 85 persen pasar drone. Spesifikasi Karma terbilang tidak begitu istimewa ketimbang DJI Mavic dan DJI Spark, pesaing terdekatnya yang dibanderol lebih murah. Bahkan Apple beberapa kali bekerjasama dengan DJI untuk mempromosikan drone melalui halaman mereka.

Lantas, apakah GoPro akan selamat dari krisis ini dan kembali menjadi jawara kamera aksi? Kita lihat saja nanti.